Sulawesi Tenggara,Telusur88News - Proyek pembangunan Gapura Toronipa, yang menjadi bagian dari infrastruktur pariwisata di Sulawesi Tenggara, kini menjadi sorotan. Hal ini dipicu oleh dugaan adanya ketidaksesuaian antara biaya yang dianggarkan dengan kualitas material yang digunakan. Dengan total anggaran mencapai Rp32 miliar, hasil akhir proyek ini menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak mengenai transparansi pengelolaan dana dan akurasi perencanaan teknis dalam FS (Feasibility Study) yang dilakukan.
*Aspek Teknik*
Dari perspektif aspek teknik, salah satu isu utama yang mencuat adalah penggunaan material kalsiboard untuk struktur gapura. Kalsiboard adalah material yang umumnya digunakan untuk konstruksi ringan, seperti dinding partisi atau plafon, dan bukan material yang dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca dan kondisi lingkungan luar. Penggunaan kalsiboard dalam pembangunan gapura permanen yang diproyeksikan menjadi simbol gerbang pariwisata ini menimbulkan kekhawatiran tentang keandalan struktur dalam jangka panjang.
Dalam studi kelayakan teknis, aspek ketahanan material terhadap cuaca dan lingkungan menjadi elemen penting yang harus diperhitungkan. Mengingat lokasi Gapura Toronipa adalah kawasan pesisir dengan paparan angin laut yang tinggi, bahan konstruksi yang digunakan seharusnya tahan terhadap korosi dan kerusakan akibat kelembapan. Jika dibandingkan dengan material seperti beton atau baja tahan karat yang lebih sesuai untuk kondisi ekstrem tersebut, penggunaan kalsiboard jelas tidak memenuhi standar teknis yang diharapkan untuk proyek sekelas ini.
Ketidaksesuaian antara anggaran besar dan kualitas material yang dipilih menimbulkan tanda tanya tentang keakuratan FS teknis yang dilakukan. Bahkan pada sebuah media masa online, salah satu Pejabat Birokrasi di OPD Sultra menyatakan bahwa Gapura berdinding kalsiboard ini diestimasi memiliki umur ekonomis 25 tahun. Apakah studi ini mempertimbangkan dengan benar kondisi lapangan dan lingkungan sekitar? Selain itu, adakah pengawasan teknis yang memadai selama fase konstruksi untuk memastikan bahwa proyek ini memenuhi spesifikasi dan standar teknis yang ditetapkan?
*Aspek Keuangan*
Dari sisi aspek keuangan, penggunaan anggaran sebesar Rp32 miliar untuk sebuah gapura dengan bahan kalsiboard memicu kritik tajam. Besarnya biaya yang dikeluarkan seharusnya merefleksikan kualitas bangunan dan daya tahan proyek tersebut. Namun, jika dilihat dari hasil akhir yang ada, tampaknya ada ketidakseimbangan antara cost dan value yang dihasilkan.
Dalam FS, perhitungan keuangan biasanya dilakukan untuk menentukan kelayakan proyek, di mana aspek cost-benefit analysis menjadi salah satu komponen utama. Apakah alokasi anggaran tersebut benar-benar mencerminkan kebutuhan material dan biaya pembangunan, atau ada kemungkinan adanya inefisiensi dalam pengelolaan anggaran? Perbedaan signifikan antara biaya yang direncanakan dan kualitas yang direalisasikan membuka potensi adanya mark-up atau penggelembungan anggaran, yang patut diselidiki lebih lanjut.
Selain itu, dari perspektif investasi, bangunan gapura ini diharapkan mampu meningkatkan daya tarik kawasan wisata dan berkontribusi pada peningkatan pendapatan daerah. Namun, dengan kualitas material yang dipertanyakan, ada risiko bahwa bangunan ini tidak akan bertahan lama, yang pada akhirnya dapat mengurangi dampak positif proyek ini terhadap ekonomi lokal. Ketidakberlanjutan dalam aspek infrastruktur ini berpotensi meningkatkan beban biaya pemeliharaan di masa depan, yang tidak diantisipasi dalam perhitungan awal FS.
Kesimpulan
Proyek Gapura Toronipa seharusnya menjadi ikon pariwisata yang dapat diandalkan, baik dari aspek teknis maupun keuangan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ada ketidaksesuaian antara rencana dan pelaksanaan, terutama terkait pemilihan material dan alokasi anggaran. Sebagai proyek publik yang menggunakan dana besar, transparansi dan akuntabilitas harus ditegakkan, mulai dari proses FS hingga pengawasan konstruksi.
Diperlukan audit menyeluruh terhadap perencanaan teknis dan pengelolaan anggaran proyek ini untuk memastikan bahwa uang negara digunakan dengan efektif dan efisien, serta bahwa proyek ini layak dan berkelanjutan untuk mendukung pariwisata Sulawesi Tenggara. ( Hirzan)
Oleh : Abdul Rachman Rika SE,MSi


